Menuju Kedewasaan Iman

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, atau kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah menghapus sebagian dosa-dosanya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika kita mendengar kata musibah, yang terbayang sering kali adalah kesedihan, kehilangan, kegagalan, sakit bahkan ujian hidup yang berat. Semuanya manusiawi. Tak ada orang yang menginginkan musibah. Kebanyakan manusia itu mengeluh sehingga muncul sebuah pertanyaan “Bagaimana mungkin musibah disyukuri?”

Islam mengajarkan kepada kita bahwa iman seorang mukmin tidak hanya diuji saat senang, tetapi justru tampak saat diuji dengan kesusahan. Dalam Islam, ujian bukanlah sesuatu yang bersifat incidental, melainkan bagian dari ketetapan Allah yang melekat pada kehidupan manusia.

Islam, sebagai agama yang sempurna, tidak pernah menutup mata terhadap realitas penderitaan manusia. Justru Islam hadir dengan pemahaman yang sangat manusiawi: hidup memang berat, tetapi Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya tanpa kekuatan jiwa. Islam mengajarkan keseimbangan antara menerima ujian dan membangun ketangguhan batin agar manusia tidak runtuh oleh beban hidup.

Dalam pandangan Islam, musibah bukan selalu tanda murka Allah, tetapi sering kali malah justru sebagai tanda cinta, bentuk pendidikan, jalan penghapus dosa dan sarana mendekatkan diri kepada Allah. Bila hakikat musibah ini diterima, maka patut disyukuri. Ujian adalah sunatullah, dan setiap orang yang beriman pasti akan mengalaminya.

Sebagaimana hadits yang tertera diatas, maka musibah merupakan pembersih jiwa. Bukankah kalau dosa dihapus, bakankah itu kenikmatan yang besar? Banyak orang tidak naik derajat karena amal, tetapi naik derajat karena kesabaran saat diuji, maka yang Allah inginkan adalah menaikkan kedudukan hamba-Nya, melatih keteguhan iman dan membentuk keikhlasan sejati

Karena itu, musibah bisa menjadi tangga menuju kemuliaan, bukan kehinaan.

“Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).  Mensyukuri musibah bukan berarti senang dengan penderitaan, akan tetapi menerima takdir Allah dengan ridha, yakin bahwa di balik ujian ada hikmah, tidak berburuk sangka kepada Allah


Posting Komentar untuk "Menuju Kedewasaan Iman"