Penemu atau pengembang utama dari
metode/efek Pygmalion dalam psikologi adalah psikolog Robert Rosenthal dan kepala sekolah Lenore
Jacobson.
Tersebutlah
seorang gadis manis di sebuah kelas. Ia sangat pemalu. Bukan hanya karena orang
tuanya hanya seorang petani. Bukan pula karena berasal dari sebuah desa. Ia
merasa rendah diri, minder dengan lingkungannya, karena ia sadar bahwa wajahnya
tidak ayu. Tidak seperti teman-stemannya, yang sudah mengenal pupur dan pemerah
bibir. Setiap hari kerabatnya selalu ceria dan pesolek. Jadilah dia seorang
murid yang minder dan rendah diri.
Hati
yang diliputi penuh ketidakpastian, serba bimbang dan ragu, diam-diam ada
seorang lelaki yang menaruh hati kepadanya. Semula ia tidak mengetahui kalau ada
seorang lelaki yang suka padanya. Ia juga tidak percaya bahwa masih ada lelaki
yang tertarik pada dirinya. Perasaan yang penuh kebimbangan ini, ia timbang
berulang-ulang. Antara percaya dan kemustahilan.
Disuatu
saat, si lelaki menumpahkan isi hatinya kepada si gadis manis. Perasaan suka
memang tidak harus diujudkan dalam bentuk sepucuk surat atau barang lainnya.
Tersenyum dan mengucap “hai” juga sebagai tanda telah meluruhkan perasaan
ketidakpastian. Tadinya serba beku, kini mencair. Tadinya serba kaku, sekarang
menjadi berbinar. Tiba-tiba ada perubahan dalam diri si gadis. Kini ia lebih
sering di depan kaca hias. Sisir tak pernah lepas dari genggaman tangan. Lirik
lagu romantis semakin mudah dihafal. Tiada hari tanpa bersolek dan berkaca
diri.
Karena
tiap hari ia rawat wajah, rambut, dan semakin terukur cara berdandan, ternyata
bukan hanya si lelaki itu yang melirik. Banyak teman lelaki di kelas menjadi
semakin dekat dengan si gadis. Si gadis tumbuh menjadi anak yang percaya diri.
Pergaulannya semakin supel. Semakin banyak kosa kata yang ia ucapkan saat
bercengkerama dengan teman. Namun ia tetap humble. Akibatnya, secara
diam-diam si gadis diperebutkan oleh banyak lelaki. Persaingan diantara siswa
putra semakin hari semakin sengit. Ungkapan terus terang sebagai “rasa senang”
datang bertubi-tubi tanpa rasa malu.
Cerita di atas mirip dengan teori Pygmalion. Dalam mitologi Yunani, Pygmalion
adalah seorang pematung yang sangat terkenal. Suatu ketika ia membuat patung
seorang wanita yang cantik. Ia pahat garis demi garis, lekuk demi lekuk.
Menjelmalah sebuah patung wanita, yang diidamkan. Karena rasa kasih sayang yang
sangat dalam terhadap patung itu, maka ia memohon kepada dewa agar patung
tersebut supaya dihidupkan seperti hidupnya manusia. Dewa menyetujui, dan
seketika patung tersebut menjadi seorang wanita yang cantik.
Efek
Pygmalion, telah dipakai oleh beberapa bidang kehidupan, seperti seni,
manajemen, perusahaan, pendidikan dan lain-lain. Teori ini dipakai untuk
memengaruhi orang lain agar orang tersebut berbuat seperti yang kita inginkan. Pertama,
adalah memengaruhi orang lain agar orang tersebut tergerak. Dalam hal ini,
tadinya si gadis adalah orang yang demikian kaku dan rendah diri. Akhirnya si
gadis menyadari, bahwa ada orang lain yang memperhatikan.
Kedua,
dampak dari perhatian, akhirnya si gadis bertindak sesuai dengan kemampuannya.
Ia menjadi pesolek dan lebih banyak bercermin. Ini menandakan bahwa, banyak
potensi yang belum digerakkan. Si gadis mulai mengeksplore, apa yang harus
dimanfaatkan agar orang lain tertarik. Ia mulai menggeliat. Energi yang semula
tersimpan, mulai digunakan untuk orang lain.
Ketiga,
Menyebabkan. Dari perilaku yang telah diperbuat oleh si gadis buat orang lain,
menyebakan perubahan pada lingkungan. Perubahan tidak hanya pada orang per
orang tapi pada skala yang lebih luas. Komunitas yang lebih beragam. Inilah
yang dapat menimbulkan efek yang keempat, yaitu memperkuat apa yang
menjadi keinginan kita.
Seorang
guru, awalnya mungkin hanya memengaruhi satu atau dua siswa. Guru memberikan
motivasi tertentu pada siswa itu dengan cara yang dimiliki. Seiring waktu
berjalan, siswa tersebut memberi dampak kepada teman-temannya. Sehingga, apa
yang menjadi harapan guru itu terwujud. Dapat mencapai tujuan bersama dengan
cara sesuai dengan karakternya masing-masing.

Posting Komentar untuk "Metode Pygmalion"