“Allah akan menolong seorang
hamba selama hamba itu menolong saudaranya.”
(HR. Muslim)
Tolong-menolong
bukan hanya sekadar aksi memberi barang atau tenaga, melainkan sebuah ketergerakan
hati dari sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial. Tolong-menolong adalah
pengakuan bahwa tidak ada satu pun individu yang benar-benar dapat berdiri
sendiri. Kajian keagamaan mengatakan bahwa membantu orang lain memiliki nilai
ibadah dan akhlak.
Tidak
semua orang tergerak untuk membantu orang lain. Keterbatasan manusialah yang
membatasinya. Ada fase saat manusia benar-benar tidak berada dalam posisi untuk
membantu, dan itu manusiawi. Semua kembali pada dua buah kata “mau dan mampu”.
Perpulang pada penataan waktu dan niat. Tidak merugikan untuk pribadi dan keluarga, namun juga tidak meninggalkan sebagai bagian dari warga masyarakat. Natalia Dewi Pratiwi dalam bukunya : "Membaca Kehidupan”, menulis tentang manajemen perpaduan jiwa dan waktu. Ringkasnya seperti ini.
Ada
empat pilihan manakala kita dihadapkan pada realita saat akan menolong orang lain.
Pilihan
pertama adalah mau dan mampu.
Inilah
keinginan setiap orang. Baik yang membantu maupun yang dibantu. Segalanya
berawal dari niat dan kondisi yang dimiliki. Kuncinya adalah ikhlas.
Pertolongan yang diberikan sesuai kemampuan dan kemauan, sehingga menjadi tepat
guna. Yang ditolong senang, yang menolong ringan.
Pilihan
kedua mau tapi tidak mampu.
Hati
sudah tergerak untuk menolong, tapi secara hitungan tidak mampu. Misalnya, ada
seorang tetangga yang membutuhkan keuangan darurat “berobat”. Sedangkan kita punya
uang tetapi juga untuk membeli keperluan, meski tidak mendesak. Akhirnya uang
diberikan tetangga dengan niat membantu, tetapi kita tidak jadi membeli sesuatu
yang dibutuhkan. Peristiwa ini dikatagorikan terpaksa.
Pilihan
ketiga tidak mau tetapi mampu.
Istilah
jawa mengatakan “ora krengket. Ungkapan ini memiliki arti tidak bergeming,
tidak ada keinginan, tidak tergoda, meski sebenarnya mampu. Contoh kalau di
kampung ada kerja bakti. Pak RT sudah mengumumkan agar besok semua warga untuk
kerja bakti bersih-bersih jalan. Tapi karena tidak ada keinginan, dicarilah
alasan: masuk angin, pegal-pegal, flu dan lain-lain.
Pilihan
keempat tidak mau dan tidak mampu.
Inilah
kondisi yang memang tidak memungkinkan untuk menolong orang lain. Ada
waktu-waku tertentu kita dalam keadaan seperti ini. Sedari awal memang berniat
untuk tidak ingin menolong, karena memang belum tergerak. Kitapun tidak
memiliki kemampuan untuk membantunya. Karenanya jangan dilakukan, atau jangan
dipaksakan.


Posting Komentar untuk "Tolong-menolong"