“Kami
tidak akan memberikan jabatan pemerintahan ini kepada orang yang meminta dan
berambisi untuk mendapatkannya,” (HR Bukhari-Muslim)
Suatu
ketika, Abu Dzar al-Ghifari datang menghadap Rasulullah SAW, dengan niat
ingin memberi kontribusi yang lebih besar kepada umat. Beliau memohon kepada
Nabi SAW agar dilantik menjadi pejabat. Keinginan ini begitu kuat, maka
Rasulullah SAW menjawab bahwa kepemimpinan itu berat karena amanah, sementara
Abu Dzar sendiri adalah orang yang lemah dalam kepemimpinan. Nasehat yang sama
beliau sampaikan kepada Abdurrahman bin Samurah, yang ingin menjadi
pejabat.
Jabatan
dan kepemimpinan adalah satu paket. Tujuannya adalah amanah dan tanggung jawab.
Apabila kepemimpinan seseorang lemah, maka berakibat pada rakyat yang dipimpin.
Rakyat menjadi tidak terkendali, yang pada akhirnya akan menimbulkan kekacauan.
Sebuah situasi yang jauh dari cita-cita islami.
Lima
belas abad yang lalu Rasulullah SAW telah mengingatkan agar tidak bermain-main
dengan Amanah. Tanggung jawabnya berat. Namun apa yang terjadi di akhir zaman
ini seolah meruntuhkan wejangan itu semua. Jabatan tidak lagi dihindari. Justru
ia menjadi ajang rebutan banyak orang. Cukup menggiurkan. Seolah-olah dengan
menjadi seorang pemimpin segala hal bisa ia lakukan.
Ada
dua tugas yang harus diemban oleh seorang pemimpin, yaitu menjaga agama dan
mengatur urusan dunia. Menjaga agama rujukannya minta nasehat kepada orang yang
ahli beragama. Sedangkan mengatur dunia selalu berkonsultasi dengan ahli
berbagai bidang. Maka tidak heran, bila pemimpin yang dekat dalam arti ikatan
emosional dengan ulama dan orang yang ahli, ada jaminan negara tidak akan
goyah, dan tentu dicintai oleh rakyatnya.
Semua
itu tidak lain karena mereka paham konsekuensi yang harus ditanggung ketika
menjadi seorang pemimpin. Terutama ketika dimintai pertanggungjawaban oleh
Allah kelak di akhirat. Kesadaran semacam ini cukup mempengaruhi jiwa mereka.
Demikianlah tanggung jawab seorang pemimpin di mata umat Islam. Tak ada
kenikmatan yang bisa dirasakannya kecuali ketika ia mampu berbuat adil.
Tidak
patut, sebagai orang yang beriman berebut jabatan bila cara yang ditempuh jauh
dari perilaku akhlak. Tetapi sangat dihimbau berebut jabatan karena menggunakan
cara kompetisi yang telah diatur bersama-sama.

Posting Komentar untuk "Berebut Jabatan"