Ada
dua orang yang berkunjung ke perpustakaan. Perpustakaan belum memiliki
fasilitas Air Control. Dua orang itu kebetulan berdekatan dengan sebuah
jendela. Salah seorang mengingkan agar
jendela dibuka, sementara yang lain menghendaki ditutup. Mereka berselisih
tentang seberapa lebar jendela harus dibuka. Sedikit saja, setengah ataukah
dibuka penuh. Perdebatan berlarut-larut. Tidak ada solusi yang memuaskan kedua
belah pihak.
Kemudian
datanglah seorang petugas perpustakaan. Orang tersebut bertanya kepada salah
satu pengunjung, mengapa jendelanya harus dibuka penuh? “Supaya ada udara
segar”, jawabnya. Petugaspun bertanya kepada yang lain. “Untuk menghindari
tiupan angin” jawab yang lain. Setelah berpikir sejenak, petugas tersebut membuka
lebar-lebar jendela sebelahnya, yang membawa masuk angin segar tanpa tiupan
angin.
Kisah
ini sering muncul dalam setiap sesi tentang “negoisasi”. Permasalahan kedua
belah pihak adalah konflik antar posisi. Kedua orang itu dalam posisi yang
saling bertolak belakang, tapi memiliki tujuan yang sama, yaitu agar saat
membaca buku terasa nyaman.
Posisi,
(sebagaimana kedua orang itu duduk) cenderung bersifat konkret dan eksplisit,
tetapi kepentingan yang mendasari mungkin tidak terungkap. Bagaimana agar
kita dapat memahami kepentingan mereka. Atau sebaliknya bagaimana cara kita
berkomunikasi dengan mereka, agar kepentingan kita dipahami oleh mereka,
sehingga menuju muara yang sama, yaitu tujuan yang sama.
Salah
satu kesalahan yang paling sering muncul adalah, dalam bernegosiasi, kita
menganggap bahwa kepentingan mereka sama seperti kepentingan kita. Hanya
berfokus pada apa yang kita pikirkan. Harapannya, jawaban dari mereka persis
apa yang kita maksudkan. Terjebak pada apa yang kita “tuntut”. Karena sebenarnya
dalam negoisasi masing-masing pihak memiliki banyak kepentingan.
Kesalahan
yang kedua adalah minimnya data. Tidak melakukan survey, riset, informasi
awal, yang membuat kita sering tertipu, dan gagap dalam bernegosiasi. Buta
terhadap kebutuhan yang mendasar, yang meliputi keamanan, kesejahteraan
ekonomi, rasa memiliki, dan pengakuan.
Apa
yang berlaku bagi individu, berlaku pula untuk kelompok dan bangsa. Negosiasi
tidak mungkin mengalami kemajuan selama salah satu pihak percaya bahwa
pemenuhan kebutuhan dasar mereka tidak terancam. Harus diakui bahwa kepentingan
mereka merupakan sebagian dari kepentingan kita. Masing-masing dari kita
cenderung terlalu fokus pada kepentingan kita sendiri, sehingga terlalu
memperhatikan kepenytingan orang lain.
Buku
bacaan: “Negosiasi sampai Jadi” Roger Fisher & William Ury.
Posting Komentar untuk "Negoisasi: Bukan hanya Persoalan Posisi"