Tiba-tiba
ekologi menjadi topik perbincangan yang cukup hangat di semua kalangan. Mulai
dari akademisi hingga kelas angkringan. Dari Profesor sampai kalangan ibu-ibu
rumah tangga. Diskusi ini seperti letupan, tersentak setelah malapetaka banjir
melanda di beberapa wilayah. Bukan hanya di Aceh, Sumatra Utara ataupun Sumatra
Barat. Hujan lebat yang mengakibatkan banjir juga melanda kepulauan Kalimantan
dan Jayapura.
Mengapa
ekologi menjadi sangat familier hadir ditengah-tengah kita.
Seratus
tahun yang lalu, hanya sedikit orang yang mendengar kata “ekologi”, dan lebih
sedikit lagi yang memahami arti kata tersebut. Seiring dengan perjalanan waktu,
yang disertai dengan peristiwa gejolak alam, orang sadar betapa pentingnya
menjaga lingkungan. Berbuat semena-mena terhadap alam yang merupakan sahabat
kita, ternyata menyebabkan kepedihan masyarakat sekitar.
Ekologi
menjadi topik utama dalam menata kehidupan. Kepedulian manusia terhadap
keseimbangan alam, diujudkan melalui kampanya-kampanye yang cukup ramai.
Tiba-tiba muncul tulisan ‘ramah ekologi’, ‘satu bumi’, atau semacamnya, yang
tertempel pada barang-barang kesayangan. Tas, kendaraan, dinding, atau bahkan
di baliho-baliho yang tertata rapi di sudut tempat yang strategis.
Mungkin,
seadainya Erns Heinrich Haeckel (1834 – 1919), tidak menemukan salah
satu cabang ilmu oceanografi yang belakangan menjelma menjadi ekologi, bumi
yang kita pijak sudah rusak parah. Sebenarnya beliau adalah seorang dokter yang
tertarik pada bidang zoologi. Namun berkat temuannya monograf
radiolaria (kelompok organisme plankton bersel satu yang diselubungi rangka
gelas yang terbuat dari silika), orang menjadi sadar akan tata kelola lingkungan
yang selama ini keliru. Dari titik ini, maka berkembanglah upaya-upaya agar
bumi ini harus diselamatkan.
Terbentuklah
komunitas-komunitas sadar lingkungan. Mereka memiliki daya tawar terhadap
negara, agar dapat menertibkan lingkungan secara tepat. Warisan manusia ini, terlalu
mahal harganya bila diabaikan. Cara-cara tersebut dapat dilakukan melalui:
Menghormati
alam (respect for nature). Manusia memiliki kewajiban moral
terhadap Tuhan, sesama manusia dan lingkungan. Kita mutlak menghargai alam
semesta dan segala isinya, karena manusia merupakan bagian dari alam itu
sendiri.
Tanggung
jawab (moral responsibility for nature). Tanggung jawab ini
bukan bersifat individual melainkan juga kolektif. Prinsip ini menuntut manusia
untuk mengambil Prakarsa, usaha, kebijakan, dan tindakan untuk menjaga alam
semesta. Ini berarti, kelestarian dan kerusakan alam merupakan tanggung jawab bersama.
Solidaritas
Kosmis (cosmic solidarity). Harus disadari bahwa manusia,
alam, dan makhluk hidup lainnya memiliki kedudukan yang setara. Kenyataan ini
membangkitkan rasa sepenanggungan dengan alam dan makhluk hidup lainnya.
Manusia dapat merasakan sedih dan sakit ketika mendapati alam mengalami
kerusakan. Manusia juga merasa empati, bila menemukan makhluk hidup lain
diperlakukan semena-mena.
Hidup
Sedehana dan Selaras dengan Alam
Arne
Naess bukanlah seorang ekolog, melainkan filosof. Namun
demikian, pemikirannya memiliki dampak yang sangat besar pada bidang ekologidan
gerakan lingkungan global. Ia pernah mengutip konsep dari Erich Fromm "Not having but being" (tidak memiliki tetapi menjadi). Prinsip ini mengacu pada kualitas, bukan
kekayaan dan sarana. Yang ditekankan bukan pada rakus dan tamak dalam
mengumpulkan harta dan kepemilikan.
Bahan bacaan: “Etika Lingkungan” oleh A. Sonny
Keraf

Posting Komentar untuk "Membinasakan Kerakusan"