Tiga Mazhab Filsafat Islam (2)

 

Jika merasa pemikiran Ibnu Sina sudah "berat", maka bersiaplah untuk lebih mengerutkan dahi lagi. Karena kita akan memasuki samudra yang jauh lebih dalam dan tak bertepi.

Ibnu Arabi (1165–1240 M) adalah sosok yang menjulang di cakrawala spiritualitas Islam. Ia dikenal dengan gelar Ash-Shaykh al-Akbar (Sang Guru Terbesar). Jika Ibnu Sina adalah raja para filosof rasional (Peripatetik), maka Ibnu Arabi adalah raja para mistikus (Sufi). Ia adalah sosok yang mengubah tasawuf dari sekadar praktik asketisme (zuhud/menjauhi dunia) menjadi sebuah sistem metafisika yang sangat kompleks dan filosofis.

Lahir di Murcia, Al Andalusia (Spanyol) adalah seorang pengembara sejati.  Arabi mengandalkan taswuf atau intuisi batin. Ia mengklaim bahwa karya-karyanya bukanlah hasil perenungan otak, melainkan ilham langsung yang diturunkan ke dalam hatinya. Pendaptanya antara lain: Hanya Tuhan yang Nyata. Wujud (Eksistensi) yang sejati hanya milik Tuhan. Tuhan adalah Wujud Mutlak. Alam Semesta adalah bayangan. Alam semesta ibarat cermin. Jika Anda melihat wajah di cermin, wajah itu ada, tapi sekaligus tidak ada (karena itu hanya pantulan). Konsep ini ditafsirkan sebagai Insan Kamil. Sehingga lahir motto beliau "Aku mengikuti agama Cinta; kemanapun unta Cinta itu membawaku, itulah agamaku dan keyakinanku."

Bila Arabi adalah “sumber mata air”, maka Sadr al-din al Wuwani adalah “insinyur yang membangun salurannya”. Berdiri di belakangnya adalah Jalaluddin Rumi. Nama ini bagaikan mecu suar di lingkungan para tasawuf. Ada pula Fakhruddin 'Iraqi yang menulis Lama'at (Kilatan Ilahi), karya sastra indah yang menjelaskan ajaran Ibnu Arabi tentang cinta. Mahmud Shabistari, dan Abdul Karim al-Jili, yang menulis kitab Al-Insan Al-Kamil (Manusia Sempurna). Ia merinci konsep Ibnu Arabi tentang bagaimana manusia bisa menjadi cermin Tuhan.

Bila kita telah membahas Ibnu Sina (Puncak Filsafat Peripatetik/Rasional) dan Ibnu Arabi (Puncak Tasawuf/Mistisisme), maka ada satu kepingan puzzle yang hilang di tengahnya. Kepingan itu adalah Shihab al-Din Yahya al-Suhrawardi yang sering dipanggil Suhrawardi, dan terkenal sebagai Filsafat Iluminasi atau Hikmah al-Ishraq. Slogan yang terkenal "Logika saja tidak cukup, tapi pengalaman mistis tanpa logika bisa tersesat."

Dalam pandangannya, bila Aristoteles dan Ibnu Sina membangun filsafatnya di atas konsep "Wujud" (Ada/Eksistensi), Suhrawardi menggantinya dengan konsep "Cahaya" (Nur). Tuhan adalah Nur al-Anwar. Tuhan adalah "Cahaya di atas Cahaya" atau Cahaya Segala Cahaya. Semakin dekat makhluk dengan Tuhan, semakin "Intens" cahayanya (seperti Malaikat). Semakin jauh dari Tuhan, semakin redup cahayanya, hingga menjadi gelap pekat.

Suhrawardi juga menggunakan simbolisme arah mata angin yang unik. Timur (Ishraq) sesungguhnya bukan timur secara geografis, melainkan dunia Malaikat dan Roh. Tempat matahari terbit sebagi sumber cahaya. Barat diibaratkan sebagai dunia materi/fisik, yaitu tempat matahari terbenam (kegelapan).

Ilmu Huduri (Knowledge by Presence) adalah sumbangan Suhrawardi yang paling brilian dan diadopsi oleh filsuf setelahnya (termasuk Mulla Sadra).

Secara ringkas, setelah mengenal "Segitiga Emas" filsafat Islam ini (Ibnu Sina - Suhrawardi - Ibnu Arabi), dapat dilihat tabel berikut.

Sumber bacaan: “Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam” karya Seyyed Hossein Nasr


Posting Komentar untuk "Tiga Mazhab Filsafat Islam (2)"